Home

Last Updated (Tuesday, 25 February 2014 11:07)

Read more...

 

 

Pembangunan kelautan dan perikanan yang telah membawa hasil yang cukup menggembirakan . Perubahan tatanan global serta nasional yang berkembang dinamis menuntut percepatan pembangunan kelautan dan perikanan nasional secara nyata untuk mampu menyesuaikan dan memenuhi tantangan lingkungan strategis yang bergerak cepat tersebut.

Munculnya paradigma untuk menjadikan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan dan perikanan sebagai motor penggerak pambangunan nasional, tercermin dalam keputusan politik nasional, sebagaimana terimplementasi dalam undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang salah satu misinya: Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional.

Mempertimbangkan perubahan lingkungan strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional dan pembangunan kelautan dan perikanan sejak tahun 2010, diperlukan langkah-langkah terobosan yang bukan merupakan upaya terpisah dari kebijakan lain atau kebijakan sebelumnya, tetapi merupakan upaya terintegrasi yang saling memperkuat dalam rangka percepatan pembangunan kelautan dan perikanan, terutama untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk kelautan dan perikanan. Untuk itu KKP mengembangkan Industrialisasi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan untuk meningkatkan kontribusi, para pelaku usaha perikanan mulai dari nelayan, pembudidaya ikan, serta pengolah dan pemasar hasil perikanan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing, sekaligus membangun sistem produksi yang modern dan terintegrasi dari hulu sampai ke hilir. Dengan demikian, indusrialisasi perikanan diharapkan mampu mengokohkan struktur usaha perikanan nasional, yang membawa multiplier effect sebagai prime mover perekonomian nasional.

 

Last Updated (Monday, 20 January 2014 10:59)

Read more...

 
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam mengantisipasi pemberlakuan perdagangan bebas yang bersifat global, setiap negara dituntut untuk menggunakan standar, regulai teknis (technical regulation) dan penilaian kesesuaian (conformity assesment). Hal ini berkaitan dengan tuntutan pasar global produk perikanan menyangkut jaminan mutu, kemanan pangan, ketelusuran, animal welfare, dan lingkungan.

Standardisasi dalam bidang perbenihan mempertemukan persyaratan konsumen, kemampuan produsen, keahlian pakar, dan regulator sehingga dihasilkan standar minimal kriteria produk. Produk perumusan standar dilakukan secara bertahap yang dimulai dari drafting, rapat teknis, konsensus dan dilanjutkan dengan jajak pendapat.

Prinsip-prinsip dasar yang harus diterapkan dalam proses perumusan :

  1. Transparasi dan keterbukaan : terbuka bagi semua pihak yang berkepentingan untuk mnegetahui              program serta membeikan kesempatan yang sama bagi yang berminat untuk berpartisipasi melalui        kelembagaan yang berkaitan dengan pengembangan SNI
  2. Konsensus dan tidak memihak : memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang memeiliki                       kepentingan berbeda untuk mengutarakan pandangannya serta mengakomodasi pencapaian                   kesepakatan oleh pihak-pihak tersebut secara konsensus (mufakat atau suara mayoritas dan tidak         memihak kepada pihak tertentu)
  3. Efektif dan tidak memihak : harus mengupayakan agar hasilnya dapat diterapkan secara efektif sesuai     dengan konteks keperluannya
  4. Koheren : sejauh mungkin mengacu kepada suatu standar internasional yang relevan dan                         menghindarkan duplikasi dengan kegiatan peumusan standar agar hasilnya harminis dengan                   perkembangan internasional
  5. Dimensi pengembangan : mempertimbangkan kepentingan usaha kecil/menengah dan daerah               dengan memberikan peluang untuk dapat berpartisipasi dalam proses perumusan SNI.

 

Last Updated (Wednesday, 27 November 2013 09:52)

Read more...

 

I. Kunjungan Di BBAP Situbondo

          Pada tanggal 25 September 2013 lalu Dirjen Perikanan Budidaya Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si. mengadakan kunjungan kerja ke BBAP Situbondo, Beliau menyampaikan beberapa program kerja Dirjen Perikanan Budidaya di Tahun 2014 yang sebagian dituangkan dalam kegiatan di Unit Pelaksana teknis termasuk BBAP Situbondo. Dalam pernyataanya Beliau menyampaikan bahwa tahun 2014 untuk kegiatan perekayasaan teknologi sebesar 40%, selebihnya sebesar 60% adalah untuk kegiatan pendampingan, pengembangan teknologi dan pelayanan.

        Kegiatan perekayasaan yang menjadi fokus DJPB yaitu kegiatan perekayasaan yang mempunyai nilai lebih yang bisa diimplementasikan kepada masyarakat, yaitu yang mengarah pada peningkatan produksi dan mengacu pada IKU DJPB. Kegiatan yang difokuskan antara lain kegiatan pencegahan penyakit, yaitu dengan gerakan vaksinasi ikan (GERVIKAN), kegiatan pendampingan teknologi serta mendorong dan menyemangati investor untuk menanamkan modalnya pada perikanan budidaya.

        Terkait dengan kegiatan pendampingan teknologi, Dirjen Perikanan Budidaya menekankan bahwa setiap Unit Pelaksana Teknis harus mempunyai kegiatan unggulan yang fokus, dan mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah setempat. Sebagai UPT DJPB, BBAP Situbondo diharapkan sensitif tehadap kebijakan pusat, harus tanggap terhadap program yang digulirkan DJPB.

        “Dalam menghadapi krisis lahan, maka diperlukan kegiatan yang intensif dan super intensif, dalam hal ini setiap Balai harus menyiapkan diri dengan teknologi unggulan”, demikian pernyataan Dirjen Perikanan Budidaya.  Lebih lanjut Beliau berpesan agar setiap UPT menyiapkan diri menghadapi perdagangan bebas ASEAN 2015, caranya adalah dengan menyiapkan para pembudidaya melalui kegiatan pendampingan teknologi dam melakukan sertifikasi pada unit-unit produksi.


II. Sarasehan Nasional Perikanan di Akademi Perikanan Ibrahimy, yayasan PP. Salafiyah Safi'iyah Sukorejo-Situbondo

              Kewirausahaan bidang perikanan merupakan pilihan yang sangat diminati sebagai pilihan kerja di masa mendatang karena prospeknya yang sangat menjajikan“, kata Dr. Ir. Slamet Soebyakto, M. Si, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya mengawali acara Sarasehan Nasional Perikanan yang diadakan di Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo. Acara yang diadakan di Pondok dengan santri berjumlah + 15.000 orang ini ditujukan untuk menggerakan semangat kewirausahaan santriwan-santriwati yang sedang menempuh studi dan belajar ilmu agama. Kegiatan ini sangat terasa sinerginya dengan jargon Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yaitu Industrialisasi perikanan dan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yaitu perikanan budidaya yang bekelanjutan.

           Dalam kesempatan ini Bapak Dirjen mengingatkan betapa kecilnya konsumsi daging ikan penduduk Indonesia yang hanya 30 kg/perkapita keluarga. Jika dibandingkan dengan Jepang yang konsumsinya mencapai angka 150 kg/perkapita keluarga, tentunya angkanya terpaut jauh. Tentunya hal ini tidak sinkron dengan posisi Indonesia yang menempati peringkat 4 produsen ikan dunia di bawah China, India, dan Vietnam. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan memicu munculnya wirausahawan-wirausahawan baru dibidang perikanan tentunya akan mendorong produksi perikanan budidaya dan daya konsumsi daging ikan.

         Kegiatan sarasehan ini dipungkasi dengan pemberian bantuan kepada Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo berupa paket bantuan dari Direktorat jenderal Perikanan Budidaya berupa modal usaha berbasis kelompok masyarakat senilai 75 juta rupiah yang diterima oleh Kabid Dikti Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo. Bantuan ini berupa alat, bahan, dan pendampingan teknis budidaya air tawar. Diharapkan bantuan ini menjadi sarana belajar santriwan dan santriwati yang bisa dijadikan bekal menjadi wirausahawan yang sukses di masa mendatang.


FOTO-FOTO KUNJUNGAN Bapak Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI di BBAP Situbondo & Sarasehan Nasional Perikanan di Akademi Perikanan Ibrahimy:

 

Sambutan Bpk. Kepala BBAP Situbondo, Bpk. Ir. Dwi Soeharmanto, MM, pada kunjungan Bpk. Dirjen Perikanan Budidaya

Bapak Dirjen Perikanan Budidaya, Bpk. DR. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si,  Memberi Pengarahan pada Karyawan/wati BBAP Situbondo

Suasana Pengarahan Bpk. Dirjen Perikanan Budidaya di Auditorium BBAP Situbondo

Last Updated (Thursday, 03 October 2013 14:04)

Read more...

 

 

SURVEI LOKASI KEGIATAN DISEMINASI BUDIDAYA BANDENG

( Chanos chanos Forsk )

Oleh :

TIM DISEMINASI BUDIDAYA BANDENG

I. PENDAHULUAN


1.1.         Latar Belakang

Industrialisasi Kelautan dan Perikanan adalah proses perubahan sistem produksi hulu dan hilir untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas, dan skala produksi sumberdaya kelautan dan perikanan, melalui modernisasi yang didukung dengan arah kebijakan terintegrasi antara kebijakan ekonomi makro, pengembangan infrastruktur, sistem usaha dan investasi, IPTEK dan SDM untuk kesejahteraan rakyat.

Bahwa untuk mendukung suksesnya program ini maka perlu penyamaan program-program yang akan dilaksanakan BBAP Situbondo dengan program industrialisasi perikanan tersebut. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan BBAP Situbondo harus ditekankan atau difokuskan pada kegiatan industrialisasi perikanan.

Ada enam komoditas yang menjadi fokus dalam peningkatan produksi yang dikembangkan di kawasan-kawasan yang menjadi sentra komoditas tersebut. Enam komoditas tersebut adalah bandeng (Indramayu, Pinrang, dan Tulang Bawang); rumput laut (Polewali, Sumbawa, dan Minahasa Utara); Nila (Musirawas); Lele (Boyolali); Patin (Banjar); dan Bandeng (Gresik)

 

1.2 Kerangka Pikir

Salah satu langkah yang ditempuh oleh Balai Budidaya Air Payau situbondo dalam rangka mensukseskan program industrialisasi perikanan adalah dilakukannya revitalisasi tambak bandeng di Pantai Utara Jawa khususnya di daerah gresik.

1.3 Tujuan

Tujuan dari revitalisasi tambak ini adalah untuk meningkatkan produktivitas tambak-tambak bandeng, memulihkan pantura sebagai sentra produksi perikanan, mendorong peningkatan nilai tambah produksi perikanan untuk pasar nasional dan global, meningkatkan pendapatan dan membina usaha budidaya, pengolahan, dan pemasaran skala UMKM, dan membuka lapangan kerja nelayan untuk masuk ke dalam sistem produksi budidaya, sebagai pekerja alternatif seperti penanganan, pengelolaan dan perdagangan

1.4 Sasaran

Sasaran dari diseminasi teknologi tambak bandeng adalah teradopsinya teknologi budidaya yang baik dan benar oleh masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan bandeng itu sendiri.

 

1.5. Waktu dan Tempat

Waktu pelaksanaan survei lokasi kegiatan diseminasi budidaya bandeng ini dilaksanakan pada tanggal  11 – 12  Februari 2013 di Kabupaten Tuban, Lamongan dan Gresik. Lokasi survei di Kabupaten Tuban dilakukan kawasan Bancar, kawasan Sowan, kawasan Gading dan kawasan Panyuran.

Last Updated (Thursday, 03 October 2013 13:47)

Read more...

 
Who's Online
We have 2 guests online