Budidaya Udang Vannamei Supra Intensif Skala Kecil

14 Oktober 2016 Budidaya 0 Comments

Tampak terlihat dua buah kincir berputar pada bekas bak tandon yang sudah tidak terpakai pada Instalasi Gelung, di Desa Gelung Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo. Warna air kecoklatan di bawah kerangka atap yang sebagian besar tutupnya terbuka semakin mendorong keingintahuan  untuk melihat lebih dekat apa sebetulnya yang dilakukan pada instalasi yang berjarak sekitar 17 km dari kantor pusat Pecaron.   Instalasi Gelung merupakan unit kerja di bawah Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo yang secara khusus mengembangkan komoditas udang vanname baik produksi benih, pembesaran maupun produksi calon induk.

Berdekatan dengan pintu masuk bak pemeliharaan, terikat sebuah anco yang sering digunakan sebagai kontrol  pakan umumnya  yang tersedia pada tambak udang intensif. Setelah terangkat tampaklah bahwa yang dipelihara  adalah udang vanname yang ukurannya sudah cukup besar.  Bak yang digunakan berukuran  84 m2 dengan kedalaman  2 meter. Jumlah benur vanname yang ditebar mencapai 60.000 ekor, dengan demikian  kepadatan tebar yang ada sekitar 714 ekor /m2.

Gambar 1. Bak bekas tandon berubah fungsi untuk pembesaran udang vanname.

Pada budidaya udang vannamei sistem  intensif  udang vannamei dapat dipanen   sekitar 2 kg / m2 dengan padat tebar benur antara 50 – 250 ekor / m2.  Pada sistem budidaya ini mengandalkan sepenuhnya pada pemberian pakan, dan manipulasi kondisi lingkungan budidaya secara hati-hati. Tingkat kelulushidupan yang tinggi dapat dicapai dengan kondisi lingkungan perairan optimal, dilakukan treatmen air, pengaerasian tingkat tinggi.  Pada tingkat penebaran  yang lebih tinggi  (300 – 400  m2)umur bibit yang ditebar, kandungan  protein pakan, dan jumlah pemberian pakan  harus menjadi bahan pertimbangan.

Penanaman benih udang dengan kepadatan  714 ekor /m2 dapat dikategorikan pada sistem pemeliharaan  supra intensif dan pada saat ini mulai banyak dikembangkan. Kegiatan panen  pada sistem supra intensif di instalasi Gelung  dilakukan  pada saat udang berumur 92 hari, dan sebelumnya telah dilaksanakan panen parsial yang dimulai pada saat udang vanname berumur 60 hari  dengan ukuran  berat  4,7 gram/ekor atau size 200 ekor/kg.  Pada saat ini pemasaran udang vanname konsumsi tidak ada kendala, bahkan panen seberapapun masih bisa terserap oleh pasar. Pemasaran udang di wilayah Kabupaten Situbondo tidak banyak kendala karena dapat terserap oleh pasar lokal, Banyuwangi, Bali, Surabaya dan Sidoarjo.  Dengan hasil total panen 550 kg dan harga per kg  di pasaran  adalah Rp.60.000/kg, maka   diperoleh penerimaan Rp. 60.000 x 550 kg = Rp. 33.000.000.  pada saat panen.

Jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan adalah  781 kg, dan dilakukan aplikasi pemberian probiotik dan penambahan kapur pertanian untuk mempertahankan kualitas air. Kegiatan sampling udang dilakukan pada pemleiharaan umur 40 , 60, 70, dan 80 hari dengan hasil berat  secara berurutan 2,73gram, 4,74 gram, 7,88 gram, dan 10,75 gram.  Dari hasil sampling dapat diketahui bahwa udang vanname masih tumbuh dengan normal dan hasil panen menunjukkan bahwa tingkat survival rate masih cukup bagus sekitar 75 % dengan asumsi hasil panen 550 kg x size 83 ekor/kg = 45.650 ekor. Feed Consumtion Rate (FCR) hasil perhitungan adalah 1,42 dan secara ekonomi masih memberikan keuntungan yang tidak sedikit.

Gambar 2. Pemberian probiotik dan penambahan kapur pertanian untuk mempertahankan kualitas air.

Oksigen terlarut merupakan parameter kritis yang harus selalu mendapat perhatian ekstra pada pemeliharaan supra intensif ini. Penggunaan supercas 2 HP/3PK dan 2 buah kincir 0,5 HP terpasang pada bak pemeliharaan dengan luas 84 m2 ini telah mampu manjaga kestabilan oksigen tarlarut pada kisaran maksimal. Penggunaan oksigen murni dapat juga dipertimbangkan apabila  kepadatan tiap meter persegi akan ditingkatkan.  Adapun bahan-bahan lain yang diperlukan adalah pupuk urea, perekat pakan, pupuk ZA, kapur pertanian, kapur tohor,probiotik, vitamin C dan B komplek, molaser/tetes tebu, kaporit dan plankton.

Persiapan untuk melakukan penebaran yaitu dengan mengisi bak dengan air hingga ketinggian 1,5 m, selanjutnya disterilisasi menggunakan kaporit 10 ppm, setelah air netral selanjutnya dilakukan pemupukan urea 0,5 kg, ZA 0,5 kg diaerasi dan ditebari bibit fitoplankton sebanyak 50 liter. Kulturan plankton ditunggu 3-4 hari dan siap ditebari probiotik yang sudah dikultur sebanyak 50 liter. Setelah 2-3 hari cek kualitas airnya dan bak siap ditebari benur, benur yang ditebar menggunakan ukuran PL10-12 dan lebih baik lagi benur yang sudah digelondongkan. Bibit harus seragam ukurannya, warnanya bening, menunjukkan aktifitas berenang secara aktif dan hasil test PCR negatif. Cara adaptasi benur dengan cara diaklimatisasi selama 15-30 menit hingga kantong berembun, hal ini menandakan suhu dalam kantong telah sama dengan suhu di luar kantong.

Gambar 3.  Supercas 2 HP/3PK dan 2 buah kincir 0,5 HP untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada budidaya udang vanname supra intensif skala kecil

Konstruksi bak yang digunakan pada intalasi gelung  pada bagian atap masih terbuka, dan perlu penyempurnaan antara lain diperlukannya penutupan bak  berupa shading atau waring yang masih memungkinkan intensitas matahari tetap masuk. Hal ini berhubungan dengan  sanitasi bak untuk mencegah masuknya  kotoran dan dedaunan ke dalam bak pemeliharaan ,  serta mencegah terjadinya penurunan salinitas mendadak dan  kestabilan plankton yang   terganggu akibat terjadinya hujan deras.  Pengecatan bak tetap perlu dilakukan  agar wadah pemeliharaan sesuai dengan warna di alam selain itu untuk mempermudah membersihkan saat panen.  Dinding dan dasar bak yang kurang bersih akan menyebabkan penyakit pada siklus berikutnya karena bibit penyakit bisa menempel pada sela-sela bak. Penggunaan plastik  HDPE sebagai alternatif konstruksi masih memungkinkan untuk digunakan pada sistem supra intensif ini. Idealnya untuk usaha budidaya udang vanamei supra intensif skala kecil  adalah 100 m2,  ini disebabkan penanganannya lebih mudah, tidak diperlukan tenaga operator yang banyak dan pemberian pakan yang lebih efisien.

Untuk mempermudah penanganan kulaitas air sistem central drain perlu dipertimbangan karena pada tingkat kepadatan tinggi perlu kewaspadaan dan tindakan  cepat dan cermat untuk mengantisipasi perubahan mendadak yang terjadi baik pada media maupun udang yang kita pelihara. Pergantian air hanya dilakukan pada saat kondisi kritis. Cari terjadinya tempat akumulasi kotoran pada dasar kolam dan dilakukan penyifonan agar parameter kualitas air media pemeliharaan selalu terjaga. Dengan adanya central drain kegiatan pemusatan kotoran di tengah terus berjalan dan akan memudahkan melakukan kegiatan penyifonan sehingga kotoran cepat keluar. Matikan untuk sementara sitem pengaerasian selama proses penyifonan berlangsung. Setelah itu tambahkan secara bersamaan air laut dan air tawar secara bersamaan sehingga terhindar dari fluktuasi perubahan salinitas. Pemeriksaan kesehatan udang dilakukan secara rutin, ambil dan simpan jika ada udang yang sakit atau mati. Dan lakukan  pemanenan darurat sebagai  keputusan strategis apabila pemeliharaan  udang sudah tidak bisa dilanjutkan.

Gambar 4.  Manajemen kualitas air perlu ekstra hati-hati.

Program pemberian pakan untuk awal penebaran diberikan blind feeding 1 kg/100.000 ekor dengan frekwensi 4 x/hari. Setelah umur 40 hari dilakukan sampling pertama maka pakan yang diberikan 3,5 % dari berat biomasa dan pemasangan anco untuk mengetahui penambahan atau pengurangan pakan (pakan dalam anco sebanyak 1 %). Manajemen pergantian air dilakukan 3 hari sekali pada pagi hari sebanyak 10 % dengan cara disiphon dan saat penambahan juga dilakukan pemberian kapur dan probiotik. Sistem pemanenannya parsial dimana pada saat umur 50 hari dipanen sebagian dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan udang dalam bak

Selama masa pemeliharaan udang vanname supra intensif skala kecil ini, parameter kualitas air masih pada kisaran normal dengan salinitas secara bertahap diturunkan dari 27 0/00 sampai dicapai  salinitas 2,4 – 8  0/00, DO > 7 ppm,  CO2< 25 ppm, amonium < 0,01 ppm, nitrit < 0,01 ppm, pH 7,5-8,5  dan alkalinitas  120-150 ppm