Home

 

055

PENDAHULUAN

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempunyai program untuk merevitalisasi tambak. Revitalisasi tambak tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi udang nasional. Program tersebut dilakukan dengan menitik beratkan pada penataan kembali kawasan tambak produksi yang mengarah terjadi peningkatan produksi dan penyerapan tenaga kerja. Hal itu dilakukan dengan perbaikan kembali tambak - tambak yang mulai menurun produktifitasnya, tambak yang belum maksimal pemanfaatannya dan pengelolaan tambak dengan teknologi yang aplikatif. Revitalisasi merupakan bagian dari konsep industrialisasi yang memiliki konsep pengembangan kawasan yang saling terpadu dan berdasar aspek wilayah.

Kabupaten Lombok Tengah memiliki potensi untuk pengembangan Perikanan budi daya yang cukup besar yaitu sekitar 15,679 Ha. potensi budi daya air payau yang tersebar pada 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Pujut dan Praya Timur dengan luas potensi lahan sebesar 450 Ha. dari luas tersebut telah dibangun tambak sekitar 339,3 Ha, namun karena keterbatasan modal dan teknologi maka luas tambak yang berproduksi sebesar 17,6 Ha atau 3,2 % dari total potensi yang ada. dengan demikian, masih sekitar 96,8 % atau seluas 432,4 Ha yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan proyeksi produksi sekitar 3.327,5 ton/tahun.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo selaku UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan mengadakan pembinaan sekaligus transfer teknologi melalui kegiatan Diseminasi teknologi Budidaya Udang Vaname secara semi intensif di Kabupaten Lombok Tengah.

Tujuan yang ingin dicapai pada kegiatan diseminasi ini adalah menyebarkan teknologi budidaya udang vaname dengan menggunakan benur udang vaname nusantara I (VNI) secara baik dan benar menurut kaidah CBIB

WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan diseminasi ini dilakukan di Kawasan pertambakan Peras (desa Bilelando dan Kidang) Kec. Praya Kab. Lombok Tengah Prov. Nusa Tenggara Barat. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan mulai bulan Januari – Juni 2014, melibatkan 6 petambak dengan luas total 3 ha.

POLA PEMBINAAN PENGAWAS PERIKANAN BIDANG PEMBUDIDAYAAN IKAN 

3.1 Perencanaan

Perencanaan dilakukan sebelum kegiatan berjalan, yaitu pada saat perencanaan di tahun sebelumnya. Meliputi kegiatan teknis lapangan/paket teknologinya dan non teknis tentang anggaran biaya yang akan digunakan. Perencanaan ini melibatkan beberapa fungsional antara lain Pengawas Perikanan, Pengendali Hama Penyakit Ikan dan tim Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan BPBAP Situbondo. Perencanaan di tuangkan dalam sebuah Proposal yang akan menjadi acuannya masing – masing tim yang terlibat.

3.2 Pembentukan Tim Teknis

Tim teknis dibentuk guna menentukan pelaksana dan penanggungjawab kegiatan. Penunjukkan dilakukan oleh kepala Balai dan dibuktikan dengan Surat Keputusan. Tim teknis bertanggungjawab kepada Kepala Balai melalui Kepala Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis.

3.3 Identifikasi Lokasi

Identifikasi lokasi meliputi aspek teknis dan nonteknis dengan menggunakan ceklist. Aspek teknis meliputi legalitas lokasi, kondisi lingkungan, tingkat resiko bahaya keamanan pangan dan kemudahan aksesibilitas. Aspek nonteknis menitikberatkan pada kelembagaan Pokdakan yang meliputi legalitas pengukuhan Pokdakan, struktur organisasi, status kelompok dan aktifitas kegiatan kelompok.

3.4 Sosialisasi 

Sosialisasi dilakukan untuk memaparkan kegiatan yang akan dilakukan kepada pelaksana kegiatan dalam hal ini adalah petambak

3.5 Penentuan SPO

Standar Prosedur Operasional ditentukan untuk mengontrol kegiatan berjalan, khususnya tentang teknis.

3.6 Pengadaan Barang 

Pengadaan barang mempunyai peranan penting dalam kegiatan ini khususnya mengenai spesifikasi barang yang akan digunakan dalam kegiatan diseminasi.

3.7 Pemeliharaan (Pemilihan Lokasi - Panen) 

3.7.1 Pemilihan Lokasi

Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang terletak pada 116º42’ – 118º22’ Bujur Timur dan 8º8’ – 9º7’ Lintang Selatan. Salah satu potensi pertambakan di Indonesia, yaitu kabupaten Lombok Tengah merupakan daerah yang mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan budidaya udang, walaupun secara umum mempunyai kondisi salinitas yang tinggi.

Kawasan tambak yang ada di daerah tersebut masih dalam kondisi yang sangat baik. Kabupaten Lombok Tengah memiliki potensi untuk pengembangan Perikanan budi daya yang cukup besar yaitu sekitar 15,679 Ha. potensi budi daya air payau yang tersebar pada 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Pujut dan Praya Timur dengan luas potensi lahan sebesar 450 Ha. Berikut data lokasi tambak diseminasi budidaya udang vaname di Kabupaten Lombok Tengah :

Tabel 1. Lokasi Tambak Diseminasi

No

Uraian

Satuan

Hasil survey

1.

Nama pemilik

-

Mujitahid

Amaq Junar

Amaq Rahmat

Amaq Ria

Amaq Jumawar

Resim

2.

Lokasi Tambak

-

Ds. Bilelando, Kec. Praya Timur

Ds. Bilelando, Kec. Praya Timur

Ds. Kidang, Kec. Praya Timur

Ds. Kidang, Kec. Praya Timur

Ds. Bilelando, Kec. Praya Timur

Ds. Bilelando, Kec. Praya Timur

3.

Luas

m2

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

4.

Konstruksi

-

Tanah

Tanah

Tanah

Tanah

Tanah

Tanah

5.

Jumlah petakan

petak

1

1

1

1

1

1

6.

Salinitas

ppt

5 - 15

5 - 15

5 - 10

5 - 10

5 - 15

5 - 15

7.

Sumber air

-

Teluk awang

Teluk awang

Teluk awang

Teluk awang

Teluk awang

Teluk awang

8.

Akses jalan

-

Aspal dan kondisi bagus

Aspal dan kondisi bagus

Aspal dan kondisi bagus

Aspal dan kondisi bagus

Aspal dan kondisi bagus

Aspal dan kondisi bagus

9.

Sosial

-

Masyarakat sangat mendukung kegiatan budidaya udang vaname

Masyarakat sangat mendukung kegiatan budidaya udang vaname

Masyarakat sangat mendukung kegiatan budidaya udang vaname

Masyarakat sangat mendukung kegiatan budidaya udang vaname

Masyarakat sangat mendukung kegiatan budidaya udang vaname

Masyarakat sangat mendukung kegiatan budidaya udang vaname

 

Lokasi yang digunakan sudah layak untuk kegiatan budidaya udang. Unit usaha budidaya berada pada lingkungan yang sesuai di mana resiko keamanan pangan dari bahaya kimiawi, biologis dan fisik diminimalisir. Lokasi tambak berada dalam kawasan minapolitan Kab. Lombok Tengah.

3.7.2 Persiapan Sarana dan Prasarana

Persiapan sarana dan prasarana dilaksanakan sebelum kegiatan diseminasi dimulai. Hal ini bertujuan agar kegiatan diseminasi dapat berjalan lancar serta meminimalisir kendala.

Tata letak dan penempatan perlatan didesain sedemikian rupa untuk efisiensi kerja. Lokasi tambak dibuatkan pagar dan selalu dijaga kebersihannya. Sumber air tawar disiapkan guna keperluan petambak dalam kegiatan sehari – hari. Peralatan yang digunakan merupakan bahan alami, seperti bambu dan plastik yang aman untuk digunakan.

 

3.7.3 Persiapan Wadah Pemeliharaan

Tambak yang digunakan berbentuk persegi panjang dangan luas berkisar 2.000 – 5.000 m dan memang didesain untuk kegiatan budidaya udang. Persiapan tambak yang akan menjadi wadah pemeliharaan udang sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan kegiatan budiaya udang vannamei. Penanganan yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitas dasar tambak. Untuk memperbaiki kualitas dasar tambak meliputi pengolahan tanah, pengeringan, pengapuran dan perbaikan gudang.

Ketebalan Lumpur yang berada di dasar tambak sebelumnya berkisar 15-20 cm. Lumpur ini berasal dari sisa pan dan kotoran dari pemeliharaan sebelumnya yang mengendap di dasar. Pengankatan lumpur dilakukan dengan tangan dan bantuan cangkul. Lumpur ini mempunyai bau yang tidak sedap dan berwarna coklat karena banyak mengandung bahan organik serta gas yang berasal dari sisa pembusukan. Setelah lumpur diangkat maka tambak dibiarkan selama 3 hari sebelum dilakukan pengeringan.

Pengeringan tanah dasar bertujuan untuk mengoksidasi tanah dasar sehingga terjadi percepatan penguraian bahan organik dan menguapkan gas beracun dalam tanah. Pengeringan dilakukan hingga tanah kering dan retak-retak (kadar air 20%). Apabila tanah sudah kering, dilakukan pengisian air untuk membasahi seluruh dasar tambak dengan mengisi air hingga seluruh dasar tambak terendam air sekaligus dilakukan pencucian. Hal ini bertujuan untuk melarutkan firiti yang terjadi selama oksidasi (pengeringan). Perendaman dilakukan selama hari, kemudian dikeringkan kembali sebelum pengapuran.

Pengapuran tanah dasar dilakukan dengan dosis 3.000-5.000 kg/ha. Penggunaan kapur di tambak dapat berguna untuk megnurangi keasaman, memperkeras tanah dasar dan menyediakan kalsium yang cukup untuk proses pergantian kulit pada udang. Spesifikasi kapur yang digunakan adalah jenis kapur tohor atau biasa disebut kapur bangunan.

3.7.4 Persiapan Media Pemeliharaan

Persiapan air media pemeliharaan dilakukan sebelum penebaran benih. Air yang digunakan langsung berasal dari laut melalaui saluran berupa sungai. Pengambilan air menggunakan pompa, pengisian air media budidaya membutuhkan waktu 2-3 hari, yang kemudian dilanjutkan dengan pengendapan selama 24 jam dan sterilisasi menggunakan kaporit 20 – 25 ppm. Kaporit yang digunakan sudah sesuai dengan dosis dan aspek legalitasnya sudah terjamin. Sumber air yang digunakan terhindar dari pencemaran/sumber polusi. Air yang akan digunakan sebagai media budidaya terlebih dahulu disterilisasi pada tandon treatment.

Sterilisasi ini masih tetap dilakukan karena tidak semua hewan carier penyakit habis pada tandon biofilter meskipun pada tandon biofilter ikan karnivora berperan dalam mengurangi udang liar pembawa penyakit. Penebaran kaporit dilakukan dengan memasukkan kaporit kedalam kantong kasa dan dibawa keliling tambak. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mengendapkan partikel serta kotoran-kotoran yang terbawa pada saat pengisian air. Pada persiapan ini ketinggian airnya 50 – 80 cm serta salinitas 5 - 20 ppt. Penebaran probiotik dari jenis Bacillus sp sebagai bakteri pengurai sebanyak 2-4 ppm.

3.7.5 Penebaran benur

Benur yang digunakan merupakan hasil pembenihan yang dilakukan oleh BBAP Situbondo dengan status Vaname Nusantara I (VNI) ukuran Post Larva 10 (PL10) yang mempunyai panjang rata-rata 0,8 - 1,2 cm serta kualitas benur yang seragam dan baik secara visual maupun mikroskopis. Selain itu benur tidak terdeteksi virus penyakit dengan dibuktikan hasil analisa Polymerase Change Reaction (PCR) laboratorium hama penyakit BBAP Situbondo bahwa bebas dari penyakit WSSV, TSV dan IMNV. Pemakaian benur ukuran PL 10 ini diyakini sudah mampu untuk bertahan hidup dari goncangan perubahan kualitas air.  

Tabel 2. Jumlah Penebaran

No

Nama

Jumlah (ekor)

Spesifikasi

1.

Mujitahid

250.000

PL 10, kondisi baik, bebas virus

2.

Amaq Jumawar

250.000

PL 10, kondisi baik, bebas virus

3.

Amaq Junar

250.000

PL 10, kondisi baik, bebas virus

4.

Resim

250.000

PL 10, kondisi baik, bebas virus

5.

Amaq Rahmat

250.000

PL 10, kondisi baik, bebas virus

6.

Amaq Ria

250.000

PL 10, kondisi baik, bebas virus

Jumlah

1.500.000

 

 

Kualitas benur memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan budidaya karena akan menentukan kualitas udang setelah panen (Haliman dan Adijaya, 2005). Benur yang memiliki kualitas baik dapat diperoleh dari induk yang sehat, besar, pertumbuhannya baik dan selama pemeliharaan sampai siap tebar tidak terkontaminasi atau terserang penyakit yang dapat membahayakan kelangsungan usaha budidaya.

Benur selanjutnya ditebar dengan metode aklimatisasi terlebih dahulu, yaitu kantong plastik diapung-apungkan kurang lebih 30 menit (ditandai pengembunan pada kantong plastic). Selanjutnya kantong lastic dibuka dan benur keluar dengan sendirinya. Hal ini menandakan bahwa benur sudah beradapatasi dengan lingkungan tambak. Padat penebaran berkisar 50 ekor/m2 (teknologi semi intensif). Tabel 2 dibawah ini menunjukan padat tebar benur udang vaname :

 

Tabel 3. Jumlah Kepadatan Penebaran

No

Tambak

Jumlah benur (ekor)

Luas (m2)

Padat tebar (ekor/m2)

Teknologi

1.

Mujitahid

250.000

5.000

50

Semi Intensif

2.

Amaq Jumawar

250.000

5.000

50

Semi Intensif

3.

Amaq Junar

250.000

5.000

50

Semi Intensif

4.

Resim

250.000

5.000

50

Semi Intensif

5.

Amaq Rahmat

250.000

5.000

50

Semi Intensif

6.

Amaq Ria

250.000

5.000

50

Semi Intensif

Total 

1.500.000

30.000

50

 

 

Padat penebaran akan menentukan tingkat intensitas pemeliharaan. Kepadatan penebaran benur adalah 50 ekor/ m2. Menurut Haliman dan Adijaya (2005), benur vannamei bisa ditebar dengan kepadatan 100-125 m2. Jadi padat tebar yang dilakukan tidak tergolong tinggi untuk budidaya yang menggunakan teknologi semi intensif. Oleh karena itu, penambahan kincir air sebagai solusi untuk memasok oksigen serta manajemen pakan buatan yang baik.

Aklimatisasi suhu dilakukan dengan cara mengapungkan kantong pengangkutan di permukaan air dalam wadah pembesaran sedangkan aklimatisasi peubah lingkungan dilakukan dengan cara memasukkan air ke dalam kantong pengangkutan udang sedikit demi sedikit. Aklimatisasi dilakukan pada pagi hari saat suhu rendah agar mengurangi stress akibat penebaran.

3.7.6 Pengelolaan Pakan

Kandungan gizi pakan protein minimal 36%,Lemak 10% serat maks 3.5 %. Kadar Air maks 11%. Pakan yang di gunakan berbagai ukuran menyseuaikan umur dan ukurang udang vaname. Pakan berbentuk crumble,ukuran < 0,4 mm, 0,4 – 0,8 mm, 0,8 - 1,4 mm, bentuk pellet ukuran 1,4 x 2,0 mm dan 1,6 x 2,5 mm. Pengaturan jumlah pakan senantiasa dilakukan sesuai dengan tingkat nafsu makan, pertumbuhan dan mortalitas udang. Jika pakan diberikan terlalu sedikit dapat berakibat pertumbuhan lambat, bahkan memicu kanibalisme terutama pada pemeliharaan dengan kepadatan tinggi. Demikian pula sebaliknya, pemberian pakan berlebih dapat menimbulkan masalah. Selain sebagai limbah, sisa pakan dapat menyebabkan penurunan mutu air di tambak. Pada saat pakan no. D 0 S pemberian pakan harus dicampur dengan air agar pemberian pakan rata, cepat tenggelam, dan tidak berhaburan karena angin.setelah pakan no D0 pakan dibasahi secukupnya.pakan bisa ditebar keliling tanggul juga bisa dengan memakai rakit tergantung luas petak dan ketrampilan anak feeder.yang penting pakan jangan sampai tercecer di tanggul,dan harus tertebar merata di feeding area. Hindari penebaran pakan di dead zone. Pemberian pakan diancho diberikan setelah pakan selesai ditebar keseluruhan di petak atau kolam . Frekuensi pemberian pakan, awal kita berikan 3 kali sehari , kemudian 4 kali sehari dan 5 kali sehari. Jam pemberian pakan.sebaiknya diberikan pkl 07.00, 11.00, 15.00, 19.00, 23.00. diatas jam 23.00 jangan dilakukan pemberian pakan apapun alasannya karena saat itu kondisi kualitas air menurun, suhu turun, DO turun, H2S meningkat daya racun karena pH turun. Pada pakan juga diberikan berupa vitamin C yang dicampur dengan pakan dengan dosis 2 - 4 gram/kg pakan dengan tujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan fungsi pencernaan sehingga penyerapan nutrisi lebih maksimal. Petambak menyimpan pakan didalam gudang dengan diberi alas berupa kayu dan kedap udara.

3.7.7 Monitoring Pertumbuhan  

Pertumbuhan udang selama masa pemeliharaan hingga pemanenan mengalami kenaikan yang optimal, yang ditandai dengan kenaikkan rata-rata bobot udang. Dengan adanya kondisi separti ini udang akan mudah moulting dan menyerap banyak kalsium sehingga mempengaruhi berat badannya. Hal ini sesuai dengan pendapat (Boyd, 1979), yang menyatakan bahwa udang menyerap kalsium dan magnesium dari air selama moulting, oleh sebab itu konsentrasinya harus cukup. Meskipun tambak dalam keadaan pH baik, sebaiknnya pengapuran tetap diberikan secara rutin sehingga dapat menambah kalsium dalam air, sehingga dapat memperlancar proses moulting. Selain disebabkan faktor moulting, pertumbuhan udang juga dipengaruhi nafsu makan udang. Pertumbuhan udang selain dipengaruhi kadar kalsium dan nafsu makan, mungkin dipengaruhi juga faktor keturunan atau gen, karena tidak semua udang dihasilkan dari induk yang baik.

Penentuan berat individu dupayakan seakurat mungkin untuk menghindari kesalahan dalam penentuan jumlah pakan harian. Hal ini dilakukan dengan melakukan sampling pertumbuhan tiap 10-14 hari sekali. Jumlah sampel minimal 30 ekor. Tetapi jika variasi ukuran terlalu besar, maka jumlah sampel ditingkatkan dua kali lipat.

Probiotik diberikan untuk membantu memeperbaiki kualitas air. Salah satu kunci dalam memilih probiotik yang digunakan adalah probiotik tersebut sudah mendapatkan legalitas melalui pengujian secara saintifik. Hal ini penting oleh karena sekarang ini jenis probiotik yang beredar di pasaran sangat banyak sehingga selektifitas sangat diperlukan untuk efisiensi faktor produksi.

Penggunaan probiotik dapat meningkatkan mutu dan kesehatan lingkungan dan bahan pangan. salah satunya yang berasal dari pengaruh negatif dari pembusukan kotoran (bahan organik) dan kotoran yang lainnya (feaces udang, bangkai plankton, dll). Selain itu air media pemeliharaan juga salah satu penyebab menurunnya kualitas lingkungan karena air dapat terkontaminasi oleh virus dan pathogen. Probiotik yang digunakan selama pemeliharaan yaitu probiotik yang mengandung Bacillus sp sebagai bioremediasi media dengan dosis 2 - 4 ppm. Probiotik dapat juga untuk mempercepat pertumbuhan plankton, menjaga kestabilan perameter kualitas air pada kondisi optimum, menekan mikrobia merugikan (pathogen) dengan meningkatkan mikrobia menguntungkan dan meningkatkan produktivitas tambak.

3.7.8 Manajemen Kualitas air

Hasil pengamatan terhadap suhu selama pemeliharaan adalah 28-31 0C, kecerahan 10 - 30 cm, salinitas 5-30 ppt pH 7.5 - 8.4 Pergantian air dilakukan setelah udang berumur sekitar sebulan. Ini biasa dilakukan karena pada umur-umur tersebut nilai kecerahan air sudah terlalu pekat. pemasukan air dilakukan setelah umur udang mencapai 60 hari atau tergantung kondisi. Besarnya pemasukan air disesuaikan dengan banyaknya air yang keluar. Selain berfungsi sebagai perombak bahan organik, bakteri ini juga berfungsi sebagai penyaing nutrisi yang dimakan oleh plankton. Dengan demikian pertumbuhan plankton dapat dikendalikan.

Persentase pergantian air juga harus dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan banyaknya kandungan bahan organik dalam air. Selain itu juga setiap kali pemberian pakan, pintu sentral dibuka untuk mengeluarkan kotoran yang mengendap di dasar. Pergantian air untuk awal pemeliharaan adalah sebanyak 5% saja, sedangkan jika bahan organik telah menumpuk, maka persentase pergantian air dapat ditingkatkan hingga 10%.

3.7.9 Hama Penyakit dan Biosecurity

Hama yang ditemukan selama pemeliharaan adalah kepiting dan ular. Kepiting masuk melalui lubang-lubang pematang yang bocor. Sedangkan ular masuk ke petak dengan bebas karena tidak dipagarnya petakan pemeliharaan. Hama-hama tersebut dapat mengganggu proses pemeliharaan sebagai penyaing makanan dan gerakkan (kompetitor), pemangsa (predator) serta perusak prasarana. Penanggulangan hama-hama tersebut secara konvensional yaitu membunuh secara langsung atau memindahkan ketempat lain serta memperbaiki pematang dan saluran pemasukkan serta memasang pagar berupa plastik atau waring.

Mendeteksi adanya gejala serangan pathogen baik secara fisik (manual) maupun dengan Polymerase Chain reaction (PCR) dilaboratorium secara teratur. Lingkungan budidaya yagn baik diharapkan dapat membantu udang dalam mempertahankan kesehatannya. Pengecekan kesehatan udang dilakukan oleh pihak Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan BBAP Situbondo. Biosecurity diterapkan sejak awal, dimulai saat persiapan tambak. Persiapan tambak dilakukan untuk mencegah masuknya pathogen. Pengeringan, penggunaan saponin dan probiotik Selanjutnya adalah treatment air di tandon karena air merupakan media yang sangat rentan dengan pathogen. Penggunaan filter pada saluran pemasukan air akan melengkapi biosecurity yang direpkan.

3.7.10 Panen dan pasca panen

Kegiatan panen dilakukan ketika umur udang sudah mencapai 60 – 61 hari masa pemeliharaan dengan berat udang mencapai 10,1 gram/ekor total hasil panen 9.756 kg rata-rata hasil panen kegiatan diseminasi budidaya udang vannamei adalah hasil 1.626 kg setiap petaknya, size 99, SR 65% dan FCR 1,2. Perlengkapan panen disediakan oleh petambak yang sebelumnya di tempatkan digudang. Pemanenan dilakukan pada saat malam atau sore hari. Proses sortasi dilakukan disebuah bangsal panen yang kondisinya sudah disiapkan air tawar bersih dan es dalam kondisi bersih. Saat sortasi, dilakukan dengan cermat dan teliti sehingga tidak merusak udang sehingga tidak terkontaminasi dengan bakteri yang merugikan.

Pasca panen udang akan dimasukkan ke dalam peti yang telah diberi es pada bagian bawahnya dan diberi es kembali dibagian atas. Kemudian diisi lagi di bagian atasnya dan dilapisi es kembali hingga menjadi 3-4 lapisan udang. peti dibawa dengan menggunakan truk menuju cold storage. Selama pengangkutan suhu dijaga tetap 00C dengan cara bak penampungan ditutup dengan terpal.

Peralatan yang digunakan pada saat pemanenan dicuci bersih dengan menggunakan air tawar. Bangsal panen dibersihakan dengan cara menyikat lantai dan menyemprot bagian dinding sehingga bersih dan tidak menimbulkan bau yang tidak sedap.

 3.8 Pembinaan dan Monitoring

Pembinaan yang dimaksud adalah pengawalan SPO yang telah ditetapkan jangan sampai menyalahi aturan. Monitoring berfungsi untuk melihat hasil yang telah dicapai dan kinerja pelaksanaan kegiatan diseminasi yang meliputi kegiatan mengamati, meninjau kembali dan mempelajari yang dilakukan secara berkala mulai dari tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan dan tahapan akhir kegiatan diseminasi.

3.9 Evaluasi 

Evaluasi dilakukan untuk melihat relevansi, efektifitas dan dampak hasil pelaksanaan kegiatan terhadap tujuan, sasaran, indikator keberhasilan yang diharapkan serta melihat sejauhmana persoalan yang dihadapi sebagai bahan acuan dan referensi untuk menentkn alternatif solusi dan rencana tindak lanjut. Evaluasi pelaksanaan kegiatan mencakup tingkat penerapan teknologi budidaya udang vaname, produkstifitas budidaya udang setelah adanya kegiatan, dampak terhadap hasil pelaksanaan kegiatan, keberlanjutan sistem usaha budidaya di tingkat pokdakan, perkembangan kelembagaan dan kemandirian pokdakan, minat masyarakat untuk menerapkan teknologi anjuran dan kaidah CBIB pda proses produksi budidaya di lahan masing – masing.

3.10 Pelaporan

Kegiatan pelaporan disampaikan pada saat akhir pelaksanaan.

 OUTPUT

  • Keberhasilan transfer teknologi budidaya udang secara semi intensif dimasyarakat Bilelando dan Kidang (kawasan peras) Kec. Praya Timur Kab.Lombok Tengah.
  • Masyarakat menerima kegiatan ini dengan antusias dan semangat yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan perbaikan dan pembangunan konstruksi tambak dengan biaya yang tinggi (25.000.000/5.000 m2), melengkapi sarana prasarana (pengadaan kincir air).
  • Meningkatnya teknologi budidaya udang vaname dari tingkat tradisional ke arah semi intensif, yang bisa dilihat dari kapasitas hasil produksi yang semula 1.000 kg/ha menjadi 6.000 kg/ha. Pendapatan secara nominal dari 40.000.000/ha menjadi 120.000.000 ha/siklus
  • Kegiatan diseminasi berdampak berkembanganya budidaya udang di Bilelando dan Kidang, Kec. Praya Timur.
  • Petambak mulai melakukan berbudidaya secara kaidah CBIB (cara budidaya ikan yang baik).

Last Updated (Friday, 26 June 2015 14:51)

 

Foto Save Our Mangrove

 

Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo sebagai salah satu UPT Direktorat jenderal Perikanan Budidaya mendukung “gawe besar” Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang mengejawantahkan ruh pembangunan perikanan budidaya didorong untuk selaras dengan tiga pilar pembangunan yang merupakan turunan dari Nawa Cita atau Visi Misi Presiden RI. Tiga pilar tersebut adalah Prosperity (Kesejahteraan), Sustainability (Keberlanjutan) dan Sovereignity (Kedaulatan). Hal tersebut tentu memperkuat visi pembangunan “Poros Maritim” di Indonesia.

Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah bersinergi dengan PT. Matahari Sakti yang melaksanakan CSR (Corporate Social Responsibility) berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", yakni kegiatan yang bertajuk “Save Our Mangrove”. Pelaksanaannya dengan melakukan penanaman 15.000 bibit mangrove di pesisir pantai daerah Situbondo. Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama dengan FORMIKAN (Forum Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina Ikan Jawa Timur), Politeknik Perikanan dan Kelautan Sidoarjo, Kelompok Pengawas Masyarakat “Gina Lestari” Kab. Situbondo, Muspida Kab. Situbondo, Dinas Kelautan dan Perikanan Situbondo dan beberapa pihak lainnya.

Kegiatan kerjasama antara berbagai elemen masyarakat ini menjadi sebuah jawaban "kepedulian" dan memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia. Dapat dikatakan hal ini adalah kontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan dengan cara manajemen dampak (minimisasi dampak negatif dan maksimisasi dampak positif) terhadap seluruh pemangku kepentingannya.

Salah Fungsi dari penanaman mangrove di pesisir pantai Situbondo ini adalah adalah menahan terpaan ombak dari laut pantai utara. Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi suangai juga berfungsi sama dengan bagian yang menghadap ke laut. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam (nature barrier) yang menahan laju ombak pemicu abrasi.

Last Updated (Friday, 12 June 2015 10:50)

 

Salah satu program kegiatan yang dilakukan oleh Balai Perikanan  Air Payau Situbondo adalah melakukan kegiatan kerjasama teknis dan penyebaran informasi. Hal tersebut diwujudkan dengan dilaksanakannya kegiatan magang/PKL di BPBAP Situbondo. Untuk mempresentasikan hasil kegiatan yang telah diikuti oleh seluruh peserta magang maupun PKL telah dilaksanakan “Seminar Hasil Sementara (Progress Report) PKL/Magang” pada tanggal 31 Maret 2015. Kegiatan ini sekaligus untuk mengukur sejauhmana hasil yang telah diperoleh peserta pembelajaran. Seminar dilaksanakan dengan cara berkelompok yaitu perwakilan institusi dengan menyampaikan satu judul presentasi.

Judul materi telah ditentukan oleh Tim Uji Terap Teknis dan Kerjasama, selanjutnya tiap kelompok membuat bahan presentasi dalam bentuk power point dengan arahan pembimbing yang telah di beri tugas oleh Kepala Balai untuk menjadi pembimbing dalam kegiatan tersebut.

Dalam kegiatan Seminar Hasil Sementara (Progress Report) PKL/Magang peserta dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Tim Pengarah BPBAP Situbondo serta teknisi yang sangat berkompeten di bidangnya masing-masing yaitu : Ir. Santoso Djunadi (Koord. Fungsional), Ir. Sofiati (Koord. Fungsional Perekayasa), Pangihutan Sitorus, S. Pi (Koord. Fungsional Pengawas), Ir. Susetyo Pramudjo (Koord. CPIB), Bambang Hanggono, S.Pi, M. Sc (Koordinator Laboratorium) dan Ir. Moh. Affandi (Koord. CBIB). Kriteria penilaian terdiri dari performance presentasi, kreatifitas material seminar, kemampuan diskusi, cara penulisan ilmiah, dan antusiasme.

Seluruh peserta dengan antusias mengikuti kegiatan tersebut sekaligus menjadi penyemangat bagi perwakilan kelompoknya yang sedang mempresentasikan hasil kegiatannya. Selain kegiatan seminar juga diselingi dengan acara hiburan sehingga membuat suasana seminar terasa hangat dan santai.

Untuk menyemangati seluruh peserta, panitia telah menyediakan Tropi bagi kelompok yang berhasil menyajikan presentasi terbaik. Dalam seminar kali ini yang berhasil menjadi juara adalah perwakilan dari Institut Petrtanian Bogor berhasil menjadi juAra I, sedangkan juara II diraIh oleh Mahasiswa/Mahasiswi perwakilan dari Politeknik Negeri Jember, dan juara III berhasil diraih oleh perwakilan Siswa/Siswi SUPM Negeri Ladong

Last Updated (Friday, 12 June 2015 10:38)

 

Pada tanggal 10 Februari 2015, telah dilaksanakan kegiatan Seminar Penyebaran informasi Teknologi Akuakultur Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. Seminar ini ditujukan bagi peserta magang, PKL dan penelitian di BPBAP Situbondo. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan pengetahuan teknis budidaya dan networking dunia perikanan, serta dapat menjadi inspirasi bagi seluruh peserta dalam kegiatan seminar hasil (progres report peserta magang, PKL sekaligus sebagai bentuk pelayanan informasi BPBAP Situbondo).

Kegiatan ini berlangsung selama sehari penuh, dimulai dengan pengarahan dari Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo Ir. Dwi Soeharmanto, MM pada pukul 08.00. Acara dilanjutkan dengan pemberian materi yang disampaikan oleh instruktur. Instruktur berasal dari pegawai internal Balai yang sudah berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Dalam kesempatan ini, ada sembilan materi yang telah dipersiapkan oleh Tim Uji Terap Teknis dan Kerjasama sebagai penanggung jawab kegiatan pembelajaran di BPBAP Situbondo. Kesembilan materi itu adalah : pembesaran ikan kerapu di KJA, pembenihan udang vaname, teknologi pembuatan pakan buatan dan nutrisi, pembenihan ikan kerapu, pendederan ikan kerapu, kesehatan ikan dan lingkungan khususnya tentang vaksinasi, teknik kultur pakan alami dan bioteknologi.

Seluruh materi disampaikan dengan sangat jelas dan menarik. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta dengan penuh semangat dan sangat aktif terhadap materi-materi yang disampaikan. Peserta kuliah umum menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia perikanan khususnya tentang teknik budidaya dan cara penanggulangan berbagai penyakit yang sering menyerang pada ikan maupun udang.

Kegiatan kuliah umum ini merupakan bentuk nyata dari pelayanan informasi yang diberikan oleh BPBAP Situbondo kepada stake holders. Publikasi ini diharapkan menjadi inisiator motivasi bagi peserta magang untuk terjun ke perikanan budidaya secara total. Dengan demikian jumlah tenaga binaan perikanan budidaya semakin meningkat dan pada step selanjutnya akan memperkuat barisan pembudidaya ikan secara nasional.

Last Updated (Thursday, 09 April 2015 13:54)

 

 

 

        Pertemuan jejaring udang vaname diselenggarakan di Hotel Santika  Surabaya   tanggal  26 - 28 Nopember 2014,  dibuka oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, dihadiri oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi  Jawa Timur, Direktur Perbenihan DJPB, tim pakar (Prof. Dr. Ketut Sugama,M.Sc,  Dr. Enday Kusnendar, M.Sc., Prof. Dr. Haryanti, M.Sc, Dr. Alimuddin, M.Sc.) dan dihadiri oleh anggota jejaring udang vaname dari BBPPBL Gondol Bali, BPPBAP Maros Sulawesi Selatan, BBPBAP Jepara Jawa Tengah, BBAP Takalar Sulawesi Selatan, BPIUUK Karangasem Bali, BPBAP Bangil Pasuruan Jawa Timur, UPBL Probolinggo Jawa Timur, UPTD SAPAL Manggar Kalimantan Timur, BPBIAPL Pangandaran Jawa Barat, IBAP Boncong Tuban, BPBIAPL Maribaya Tegal, IBAP Lamongan,  Dinas Perikanan Situbondo, dan Kepala BBAP Situbondo beserta staff teknis BCUV. Adapun materi yang disampaikan pada temu jejaring udang vaname ini adalah sebagai berikut: 

 

Last Updated (Wednesday, 14 January 2015 12:44)

Read more...

 
Who's Online
We have 3 guests online