Home

1.1 Latar Belakang

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempunyai program untuk merevitalisasi tambak. Revitalisasi tambak tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi udang nasional. Program tersebut dilakukan dengan menitik beratkan pada penataan kembali kawasan tambak produksi yang mengarah terjadi peningkatan produksi dan penyerapan tenaga kerja. Hal itu dilakukan dengan perbaikan kembali tambak - tambak yang mulai menurun produktifitasnya, tambak yang belum maksimal pemanfaatannya dan pengelolaan tambak dengan teknologi yang aplikatif. Revitalisasi merupakan bagian dari konsep industrialisasi yang memiliki konsep pengembangan kawasan yang saling terpadu dan berdasar aspek wilayah.

Kabupaten Lombok Tengah terletak pada posisi 82° 7' - 8° 30' Lintang Selatan dan 116° 10' - 116° 30' Bujur Timur, membujur mulai dari kaki Gunung Rinjani di sebelah Utara hingga ke pesisir pantai Kuta di sebelah Selatan dengan beberapa pulau kecil yang ada disekitarnya. Luas wilayah Kabupaten Lombok Tengah adalah 1.208,39 km².

Kabupaten Lombok Tengah memiliki potensi untuk pengembangan Perikanan budi daya yang cukup besar yaitu sekitar 15,679 Ha. potensi budi daya air payau yang tersebar pada 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Pujut dan Praya Timur dengan luas potensi lahan sebesar 450 Ha. dari luas tersebut telah dibangun tambak sekitar 339,3 Ha, namun karena keterbatasan modal dan teknologi maka luas tambak yang berproduksi sebesar 17,6 Ha atau 3,2 % dari total potensi yang ada. dengan demikian, masih sekitar 96,8 % atau seluas 432,4 Ha yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan proyeksi produksi sekitar 3.327,5 ton/tahun.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo selaku UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan mengadakan pembinaan sekaligus transfer teknologi melalui kegiatan Diseminasi teknologi Budidaya Udang Vaname secara semi intensif di Kabupaten Lombok Tengah.

 

Last Updated (Tuesday, 29 April 2014 10:41)

Read more...

 

I. Pendahuluan

Sejak tahun 1996, BBAP Situbondo telah berhasil memijahkan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di dalam bak terkontrol. Seiring dengan peningkatan kebutuhan benih serta untuk menjaga kelestarian alam, ketergantungan induk kerapu tikus dari alam perlu dikurangi. Sebagai gantinya, perlu dilakukan produksi calon induk kerapu tikus dari hasil pembenihan maupun pembesaran. Usaha domestikasi calon induk kerapu tikus telah dilakukan oleh BBAP Situbondo sejak tahun 1998.

Teknik pemeliharaan calon induk kerapu tikus dapat dilakukan pada bak beton maupun karamba jaring apung. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan calon induk kerapu tikus adalah kepadatan ikan, sumber air, sistem biosekuriti, komposisi pakan dan pengkayaan pakan dengan multivitamin.

Penyiapan calon induk kerapu tikus diawali dengan seleksi induk secara fenotip baik dari alam maupun dari hasil pembenihan. Faktor nutrisi juga berperan penting dalam penyiapan calon induk kerapu. Asupan nutrisi yang seimbang serta diperkaya dengan multivitamin dapat meningkatkan pertumbuhan serta percepatan pengembangan gonad.

Padat tebar dalam pemeliharaan calon induk di bak adalah 1–3 kg/m3 air media. Agar induk tetap sehat dalam wadah pemeliharaan dan untuk memacu pematangan gonad, pergantian air dilakukan dengan metode air mengalir secara terus menerus (Akbar et al., 2002).

Bak untuk pemeliharaan induk sebaiknya berbentuk bulat dengan kapasitas bak minimal 50 m3 dengan kedalaman 2,5–3,0 meter dan harus dilengkapi pipa pembuangan yang terletak di dasar bagian tengah untuk mengeluarkan kotoran dan memudahkan pengeringan serta ditempatkan pada ruang terbuka yang mendapatkan sinar matahari yang cukup (Anindiastuti et al.,1999).

Pakan yang diberikan sangat berpengaruh terhadap kematangan gonad dan kualitas telur yang dihasilkan. Perkembangan gonad induk terjadi jika terdapat kelebihan energi untuk pemeliharaan tubuh. Kecepatan perkembangan gonad sangat dipengaruhi oleh makanan baik kuantitas maupun kualitasnya. Hasil metabolisme zat-zat makanan digunakan untuk mempertahankan hidup, kemudian jika berlebihan akan digunakan untuk pertumbuhan diantaranya untuk pembentukan gonad.

Pengamatan pematangan gonad dilakukan dengan dua cara yaitu cara histology pengamatan di laboratorium dengan anatomi perkembangan gonad secara mendetail serta cara morphologi dilakukan di laboratorium dan di lapangan (Zaidy, 1985).

Pada umumnya ikan membutuhkan pakan berkadar protein berkisar antara 20–60%. Pemberian pakan dilakukan secara adlibitum atau sampai kenyang yaitu berkisar antara 1–3% dari total berat tubuh ikan. Frekuensi pakan satu kali sehari pada pagi atau sore hari (Mustahal, 1995 dalam Mustamin et al., 1998).

Selain pemberian pakan ikan segar, setiap minggu induk diberi multivitamin dan mineral dengan dosis 10 mg/kg induk. Pemberian vitamin dan mineral sangat penting untuk melengkapi kekurangan vitamin dan mineral yang tidak terdapat dalam pakan, untuk merangsang pembentukan dan pematangan gonad dan meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan (Mustamin et al., 1998).

Induk yang baik untuk pemijahan memiliki tingkat kematangan gonad cukup, sehat dan tidak cacat. Berat induk mempengaruhi indeks kematangan gonad, dimana semakin berat induk maka indeks kematangan gonadnya pun semakin besar sehingga kandungan telur atau sperma semakin banyak. Kandungan telur dalam gonad juga bervariasi tergantung spesies, ukuran, berat dan umur induk (Sugama dan Wijoyo, 1995 dalam Mustamin et al., 1998).

Dewasa ini, pembenihan kerapu tikus semakin berkembang dengan pesat. Hal ini ditandai dengan meningkatnya permintaan benih kerapu tikus baik dari dalam maupun luar negeri. Di sisi lain, populasi induk kerapu tikus dari alam semakin berkurang dan spesies ini termasuk dalam kategori yang harus dilindungi menurut IUCN. Oleh karena itu, penyiapan calon induk kerapu tikus perlu terus dilakukan dengan metode yang tepat, efektif dan efisien. Dengan tersedianya calon induk kerapu tikus hasil domestikasi, maka penyediaan benih yang berkualitas akan terus berkesinambungan.

 

Last Updated (Friday, 28 March 2014 13:14)

Read more...

 

 

Pada tanggal 13 Februari 2014, telah dilaksanakan kegiatan kuliah umum bagi peserta magang, pkl dan penelitian di BBAP Situbondo, kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan pengetahuan  teknis budidaya dan networking dunia perikanan, serta dapat menjadi inspirasi bagi seluruh peserta  dalam kegiatan seminar hasil (progres report peserta magang, pkl yang sebentar lagi akan dilaksanakan, sekaligus sebagai bentuk pelayanan informasi BBAP Situbondo.

Kegiatan ini berlangsung selama sehari penuh, dimulai dengan pengarahan dari Kasubbag Tata Usaha Bp. Ir. Made Yodriksa pada pukul 08.00, dilanjutkan dengan pemberian materi yang disampaikan oleh instruktur. Instruktur berasal dari pegawai internal Balai yang sudah berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Dalam kesempatan ini, ada sembilan materi yang telah dipersiapkan oleh Team Standardisasi dan Informasi sebagai penanggung jawab kegiatan pembelajaran di BBAP situbondo, kesembilan materi itu adalah : pembesaran ikan kerapu di KJA, pembenihan udang vaname, teknologi pembuatan pakan buatan dan nutrisi, pembenihan ikan kerapu, pendederan ikan kerapu, kesehatan ikan dan lingkungan khususnya tentang vaksinasi, teknik kultur pakan alami dan bioteknologi.

Seluruh materi disampaikan dengan sangat jelas dan menarik, hal ini terlihat dari antusiasme peserta dengan penuh semangat dan sangat aktif terhadap materi-materi yang disampaikan. Peserta kuliah umum menanyakan berbagai hal yang  berkaitan dengan dunia perikanan khususnya tentang teknik budidaya dan cara penanggulangan berbagai penyakit yang sering menyerang pada ikan maupun udang.

Last Updated (Wednesday, 26 March 2014 10:22)

Read more...

 

    

  Pesatnya perkembangan Karamba Jaring apung (KJA) di Kabupaten Situbondo memberikan dampak yang kurang baik di masa yang akan datang, untuk itu diperlukan suatu pengaturan secara terorganisir dan memerlukan koordinasi semua unit yang terlibat dalam kegiatan budidaya ikan kerapu seperti BBAP Situbondo, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Situbondo dan pelaku usaha kegiatan budidaya ikan kerapu itu sendiri.

      Karena agenda yang sangat urgen tersebut, maka Pengawas Perikanan BBAP Situbondo bekerjasama dengan DKP Kabupaten Situbondo menginisiasi suatu kegiatan pertemuan pembudidaya ikan kerapu di Kabupaten Situbondo pada tanggal 19 Februari 2014, bertempat di auditorium BBAP Situbondo dengan mengundang pihak-pihak terkait seperti Pengawas Perikanan Bidang Pembudidayaan Ikan BBAP Situbondo, PHPI BBAP Situbondo, Perekayasa BBAP Situbondo, Pembudidaya ikan di KJA, Dinas Kelautan Perikanan Kab. Situbondo, pelaku pasar ikan kerapu, Kepala Desa Klatakan dan pejabat terkait dari MUSPIKA Kecamatan Kendit.

      Tujuan kegiatan adalah untuk mensinkronisasi antara BBAP Situbondo, Dinas Kelautan dan Perikanan Situbondo dengan Pembudidaya ikan kerapu di KJA, serta menyebarkan informasi mengenai peluang pasar ikan kerapu konsumsi. Dalam pertemuan tersebut telah menghasilkan suatu kesepakatan bersama yaitu adanya pembentukan “ASOSIASI PEMBUDIDAYA IKAN KERAPU DI KABUPATEN SITUBONDO”. Kegiatan ini menjadi sangat penting dilaksanakan mengingat Kabupaten Situbondo mempunyai daerah perairan laut sangat luas, sepanjang 150 km dari barat ke timur dari kecamatan Banyuglugur  sampai kecamatan Banyuputih.

     Namun potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar tersebut belum di kelola secara penuh, oleh karenanya diperlukaan suatu usaha bersama supaya potensi kekayaan hayati yang sangat berlimpah dapat dilestarikan bahkan dikembangkan dengan lebih baik lagi, melalui pembentukan “Asosiasi Pembudidaya Ikan Kerapu di Kabupaten Situbondo”  kegiatan pembudidaya ikan kerapu yang selama ini telah berkembang dapat ditingkatkan menjadi suatu organissasi usaha yang terstruktur dan jelas, sehingga antar pengusaha budidaya ikan terjalin komunikasi yang efektif guna memecahkan permasalahan yang dimungkinkan muncul dikemudian hari serta usaha bersama untuk mengembangkan usaha budidaya kerapu yang ada sekarang.

 

Last Updated (Wednesday, 26 February 2014 09:37)

Read more...

 

Pendahuluan

Potensi perikanan budidaya di Indonesia masih bisa ditingkatkan produksinya karena didukung oleh luasnya lahan budidaya yang belum/kurang maksimal untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu, Balai budidaya Air Payau Situbondo mempunyai tugas untuk memaksimalkan potensi tersebut dengan cara pemberian layanan yang bersifat teknis dan mengembangkan inovasi teknologi adaptif yang dibutuhkan oleh masyarakat pembudidaya.

Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, perencanaan yang baik dan terarah sangat dipelukan untuk mencapai sasran tersebut.  Rencana strategis (RENSTRA) merupakan sebagai bahan acuan untuk melaksanakan semua kegiatan yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, penyusunan pembuatan renstra sangat penting untuk menentukan visi, misi dan arah kebijakan yang akan direncanakan dan diambil sehingga semua kegiatan lebih terarah untuk mencapai sasaran dan target yang sudah ditentukan.

Tujuan dan Sasaran

Workshop penyusunan renstra merupakan suatu kegiatan terpadu untuk merumuskan perencanaan kebijakan yang akan dimabil selama lima tahun ke depan (tahun 2015-2019). Tujuan yang akan dicapai yaitu sebagai media pembelajaran cara penyusunan rencana strategis yang baik, terarah dan sesuai dengan pedoman yang ada.

Sasaran yang ingin dicapai adalah terlaksananya pembuatan renstra yang sesuai dengan semua kegiatan yang diselaraskan dengan tugas pokok dan fungsi Balai Budidaya Air Payau Situbondo.

Last Updated (Monday, 24 February 2014 15:31)

Read more...

 
Who's Online
We have 3 guests online