Home
Kepulauan Riau mempunyai julukan Provinsi Maritim Indonesia, dikarenakan memiliki luas laut 96% lebih besar daripada daratannya dengan jumlah pulau sebanyak 2.408 buah. Dengan julukan dan predikat tersebut tentunya menjadi kebanggan bagi seluruh lapisan masyarakat maupun pemerintahannya. Tantangan juga disadari oleh pemerintah yang berkaitan dengan pembangunan di seluruh wilayah yang harus berjalan secara merata dan berkelanjutan. Salah satu yang mendapat mandat besar adalah Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Propinsi Kepulauan Riau yang membidangi pembangunan sumberdaya kelautan dan perikanan.

Melihat besarnya potensi kelautan dan perikanan yang ada, maka pemerintah dirasa perlu melakukan usaha-usaha yang dapat memajukan ekosistem kelautan dan perikanan di Provinsi Kepulauan Riau, hal ini sesuai dengan visi yang diemban oleh DKP Provinsi Kepulauan Riau yaitu “Terwujudnya Provinsi Kepulauan Riau Sebagai Salah Satu Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Unggulan di Indonesia”. Adapun misi dasar yang berkaitan langsung dengan kelautan dan perikanan antara lain : Meningkatkan pendayagunaan sumber daya kelautan, pengembangan potensi ekonomi lokal dengan menjamin keberpihakkan kepada rakyat kecil, serta mengembangkan wisata berbasis kelautan dan budaya setempat serta beberapa misi lainnya yang berkaitan dengan  pendidikan, investasi dan lain-lain.

Untuk mewujudkan misi dasar tersebut diperlukan beberapa strategi yang perlu diambil yaitu:

  1. Mendorong pengembangan perikanan tangkap dan budidaya melalui penyediaan sarana dan prasarana, permodalan dan  teknologi;
  2. Mendorong pengembangan  usaha pengolahan dan pemasaran secara terpadu;
  3. Meningkatkan keterkaitan antar daerah (connectivity);
  4. Mendorong percepatan pembangunan daerah tertinggal, kawasan terdepan/terluar.

Berbagai potensi sumberdaya perikanan yang dimiliki oleh Propinsi Kepulauan Riau terdiri dari berbagai hasil perikanan laut, wisata bahari dan pantai, ekosistem mangrove, terumbu karang dan rumput laut serta berbagai jenis biota laut lainnya.

Dari beberapa potensi perikanan yang ada, maka sangat perlu untuk dikembangkan secara intensif salah satunya adalah budidaya perikanan. Berbagai komoditas ekonomis penting seperti ikan kerapu, kakap putih, bawal bintang dan rumput laut sangat cocok dikembangkan di perairan Propinsi Riau.

Berbagai kegiatan budidaya perikanan yang cukup lama dikembangkan oleh masyarakat  antara lain pembesaran ikan, budidaya rumput laut, dan pengelolaan siput gonggong. Khusus budidaya ikan, bidang ini menjadi usaha unggulan bagi masyarakat nelayan, hal ini terbukti dari bertambahnya jumlah Rumah Tangga pembudidaya (RTP). Salah satu alasan budidaya perikanan berkembang cukup baik adalah adanya keuntungan usaha yang relatif besar sehingga dapat meningkatkan taraf hidup pembudidaya.

Namun kendala yang dihadapi oleh pembudidaya ini adalah minimnya pengetahuan tentang teknologi budidaya perikanan, tentunya hal ini menjadi perhatian utama bagi DKP Propinsi Kepulauan Riau untuk turut mengawal keberhasilan usaha budidaya perikanan.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh DKP Propinsi Kepulauan Riau adalah pembangunan  sumber daya manusia melalui kegiatan pelatihan maupun magang yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat pembudidaya di wilayah Kepualau Riau, sehingga dapat meminimalisir kegagalan usaha, yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Last Updated (Tuesday, 14 October 2014 11:24)

Read more...

 

Pendahuluan

          Pakan alami (plankton) pada usaha budidaya perikanan tidak dapat dipisahkan karena pakan alami merupakan pakan awal bagi kehidupan larva ikan, udang dan kekerangan yang dibudidayakan. Pakan alami terbagi menjadi phytoplankton dan zooplankton dimana keduanya memiliki kelebihan untuk pertumbuhan larva. Hal ini dikarenakan pakan alami mudah diproduksi,  kandungan nutrisinya lengkap dan tinggi  (Asam amino esensial, Asam lemak esensial /HUFA &PUFA), isi sel tipis dan padat (mudah di cerna),  cepat berkembang dan toleran terhadap lingkungan, gerakan menarik bagi ikan (hewan budidaya),  aktif (mudah ditangkap) dan tidak menghasilkan racun  (buffer  lingkungan).

          Laboratorium Pakan Alami Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo dalam meningkatkan pelayanannya menyediakan bibit phytoplankton Chlorophyceae : Nannacloropsis acculata, Nannacloropsis vulgaris, Tetraselmis chuii, Tetra jepang, Tetra telle, Dunaliella sp, Spirullina sp, Chlorella tawar danMicrosystis sp. dan phytoplankton Chrysophyceae (Diatom) : Chaetoceros calcitran, Chaetoceros gracillis, Chaetoceros cerratos, Chaetoceros simplek, Chaetoceros mullery, Chaetoceros amami, Phaeodactylum sp, Naviculla sp, Pavlova lutheri, Nitzchia sp, Skeletonema costatum, Phorpyridium sp, Isocyisis galbana,  Thallasiosira sp, Botryococcus sp.

Last Updated (Tuesday, 19 August 2014 15:03)

Read more...

 

1.1 Latar Belakang

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempunyai program untuk merevitalisasi tambak. Revitalisasi tambak tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi udang nasional. Program tersebut dilakukan dengan menitik beratkan pada penataan kembali kawasan tambak produksi yang mengarah terjadi peningkatan produksi dan penyerapan tenaga kerja. Hal itu dilakukan dengan perbaikan kembali tambak - tambak yang mulai menurun produktifitasnya, tambak yang belum maksimal pemanfaatannya dan pengelolaan tambak dengan teknologi yang aplikatif. Revitalisasi merupakan bagian dari konsep industrialisasi yang memiliki konsep pengembangan kawasan yang saling terpadu dan berdasar aspek wilayah.

Kabupaten Lombok Tengah terletak pada posisi 82° 7' - 8° 30' Lintang Selatan dan 116° 10' - 116° 30' Bujur Timur, membujur mulai dari kaki Gunung Rinjani di sebelah Utara hingga ke pesisir pantai Kuta di sebelah Selatan dengan beberapa pulau kecil yang ada disekitarnya. Luas wilayah Kabupaten Lombok Tengah adalah 1.208,39 km².

Kabupaten Lombok Tengah memiliki potensi untuk pengembangan Perikanan budi daya yang cukup besar yaitu sekitar 15,679 Ha. potensi budi daya air payau yang tersebar pada 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Pujut dan Praya Timur dengan luas potensi lahan sebesar 450 Ha. dari luas tersebut telah dibangun tambak sekitar 339,3 Ha, namun karena keterbatasan modal dan teknologi maka luas tambak yang berproduksi sebesar 17,6 Ha atau 3,2 % dari total potensi yang ada. dengan demikian, masih sekitar 96,8 % atau seluas 432,4 Ha yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan proyeksi produksi sekitar 3.327,5 ton/tahun.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo selaku UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan mengadakan pembinaan sekaligus transfer teknologi melalui kegiatan Diseminasi teknologi Budidaya Udang Vaname secara semi intensif di Kabupaten Lombok Tengah.

 

Last Updated (Tuesday, 29 April 2014 10:41)

Read more...

 

 

 

PERATURAN

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 6/PERMEN-KP/2014

TENTANG

ORGANISASI DAN TATA KERJA

UNIT PELAKSANA TEKNIS PERIKANAN BUDIDAYA

AIR TAWAR, PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU,

DAN PERIKANAN BUDIDAYA LAUT

 

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

 

Last Updated (Monday, 11 August 2014 10:46)

Read more...

 

I. Pendahuluan

Sejak tahun 1996, BBAP Situbondo telah berhasil memijahkan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di dalam bak terkontrol. Seiring dengan peningkatan kebutuhan benih serta untuk menjaga kelestarian alam, ketergantungan induk kerapu tikus dari alam perlu dikurangi. Sebagai gantinya, perlu dilakukan produksi calon induk kerapu tikus dari hasil pembenihan maupun pembesaran. Usaha domestikasi calon induk kerapu tikus telah dilakukan oleh BBAP Situbondo sejak tahun 1998.

Teknik pemeliharaan calon induk kerapu tikus dapat dilakukan pada bak beton maupun karamba jaring apung. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan calon induk kerapu tikus adalah kepadatan ikan, sumber air, sistem biosekuriti, komposisi pakan dan pengkayaan pakan dengan multivitamin.

Penyiapan calon induk kerapu tikus diawali dengan seleksi induk secara fenotip baik dari alam maupun dari hasil pembenihan. Faktor nutrisi juga berperan penting dalam penyiapan calon induk kerapu. Asupan nutrisi yang seimbang serta diperkaya dengan multivitamin dapat meningkatkan pertumbuhan serta percepatan pengembangan gonad.

Padat tebar dalam pemeliharaan calon induk di bak adalah 1–3 kg/m3 air media. Agar induk tetap sehat dalam wadah pemeliharaan dan untuk memacu pematangan gonad, pergantian air dilakukan dengan metode air mengalir secara terus menerus (Akbar et al., 2002).

Bak untuk pemeliharaan induk sebaiknya berbentuk bulat dengan kapasitas bak minimal 50 m3 dengan kedalaman 2,5–3,0 meter dan harus dilengkapi pipa pembuangan yang terletak di dasar bagian tengah untuk mengeluarkan kotoran dan memudahkan pengeringan serta ditempatkan pada ruang terbuka yang mendapatkan sinar matahari yang cukup (Anindiastuti et al.,1999).

Pakan yang diberikan sangat berpengaruh terhadap kematangan gonad dan kualitas telur yang dihasilkan. Perkembangan gonad induk terjadi jika terdapat kelebihan energi untuk pemeliharaan tubuh. Kecepatan perkembangan gonad sangat dipengaruhi oleh makanan baik kuantitas maupun kualitasnya. Hasil metabolisme zat-zat makanan digunakan untuk mempertahankan hidup, kemudian jika berlebihan akan digunakan untuk pertumbuhan diantaranya untuk pembentukan gonad.

Pengamatan pematangan gonad dilakukan dengan dua cara yaitu cara histology pengamatan di laboratorium dengan anatomi perkembangan gonad secara mendetail serta cara morphologi dilakukan di laboratorium dan di lapangan (Zaidy, 1985).

Pada umumnya ikan membutuhkan pakan berkadar protein berkisar antara 20–60%. Pemberian pakan dilakukan secara adlibitum atau sampai kenyang yaitu berkisar antara 1–3% dari total berat tubuh ikan. Frekuensi pakan satu kali sehari pada pagi atau sore hari (Mustahal, 1995 dalam Mustamin et al., 1998).

Selain pemberian pakan ikan segar, setiap minggu induk diberi multivitamin dan mineral dengan dosis 10 mg/kg induk. Pemberian vitamin dan mineral sangat penting untuk melengkapi kekurangan vitamin dan mineral yang tidak terdapat dalam pakan, untuk merangsang pembentukan dan pematangan gonad dan meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan (Mustamin et al., 1998).

Induk yang baik untuk pemijahan memiliki tingkat kematangan gonad cukup, sehat dan tidak cacat. Berat induk mempengaruhi indeks kematangan gonad, dimana semakin berat induk maka indeks kematangan gonadnya pun semakin besar sehingga kandungan telur atau sperma semakin banyak. Kandungan telur dalam gonad juga bervariasi tergantung spesies, ukuran, berat dan umur induk (Sugama dan Wijoyo, 1995 dalam Mustamin et al., 1998).

Dewasa ini, pembenihan kerapu tikus semakin berkembang dengan pesat. Hal ini ditandai dengan meningkatnya permintaan benih kerapu tikus baik dari dalam maupun luar negeri. Di sisi lain, populasi induk kerapu tikus dari alam semakin berkurang dan spesies ini termasuk dalam kategori yang harus dilindungi menurut IUCN. Oleh karena itu, penyiapan calon induk kerapu tikus perlu terus dilakukan dengan metode yang tepat, efektif dan efisien. Dengan tersedianya calon induk kerapu tikus hasil domestikasi, maka penyediaan benih yang berkualitas akan terus berkesinambungan.

 

Last Updated (Friday, 28 March 2014 13:14)

Read more...

 
Who's Online
We have 6 guests online